SURABAYA – Pemerintah Kota ( Pemkot ) Surabaya mempercepat strategi untuk mengejar target investasi tahun 2025 dengan menyiapkan proyek prioritas dalam format Investment Project Ready-to-Offer (IPRO). Melalui skema ini, Pemkot tidak hanya menawarkan daftar proyek, tetapi menghadirkan portofolio yang sudah lengkap dengan studi pra-kelayakan sehingga investor dapat langsung masuk tanpa proses awal yang panjang.
IPRO Jadi Senjata Baru Surabaya Tarik Investor
Plt Kepala DPMPTSP Surabaya, Lasidi, menjelaskan bahwa IPRO hadir sebagai terobosan untuk membuat Surabaya kompetitif di tingkat nasional maupun global. Ia menegaskan bahwa investor kini ingin proyek yang siap dieksekusi, bukan sekadar konsep.
“Surabaya kini memiliki IPRO sebagai alat untuk menarik investor. Kami mengkurasi dan menyajikan proyek-proyek yang sudah melalui studi pra-kelayakan sehingga investor tidak perlu mulai dari nol,” tegasnya.
Lasidi menambahkan, analisis potensi, kajian finansial, hingga kelayakan lokasi tersaji lengkap dalam setiap paket IPRO. Karena itu, proses penjajakan investasi berlangsung lebih cepat dan terukur.
Baca Juga : Kasus Dugaan Penimbunan Solar Subsidi di Lumajang
Realisasi Investasi Capai Rp 31,3 Triliun
DPMPTSP mencatat realisasi investasi di Kota Surabaya mencapai Rp 31,3 triliun hingga Triwulan III 2025, dari target Rp 42,69 triliun. Sektor Transportasi, Pergudangan, dan Telekomunikasi masih menjadi penyumbang terbesar, disusul Perdagangan, Perumahan, Industri/Perkantoran, dan Jasa Lainnya.
Surabaya juga memperluas fokus investasi ke sektor hijau. Sebagai Pilot City dalam proyek transisi energi SETI, Surabaya tengah membangun ekosistem ramah lingkungan yang mendorong efisiensi energi dan penggunaan teknologi rendah emisi.
Perluas Kerja Sama Internasional dan Dorong Investasi Hijau
Untuk memperkuat jejaring global, Surabaya memperluas kerja sama internasional melalui skema sister city. Salah satunya dengan Kitakyushu, Jepang, yang fokus pada teknologi, energi bersih, dan pengembangan kota berkelanjutan.
Surabaya menargetkan lebih banyak proyek yang relevan dengan tren global, terutama sektor green investment yang kini banyak diburu investor asing.
Pelayanan Investasi Dikemas dalam Sistem One-Stop Service
Untuk mempermudah proses perizinan, Pemkot menempatkan seluruh petugas teknis dalam Mal Pelayanan Publik Siola. Sistem ini memungkinkan investor memperoleh izin hanya dalam 1–4 hari kerja, selama dokumen lengkap.
Baca Juga : Polrestabes Surabaya Ungkap 43 Kasus Curanmor
“Pelayanan yang cepat menjadi kunci. Karena itu kami memperkuat sistem one-stop service agar investor bisa langsung mengeksekusi rencana mereka,” ujar Lasidi.
Perkuat Digitalisasi dan Kanal Konsultasi Investasi
Pemkot semakin memperkuat digitalisasi perizinan melalui OSS, SSW Surabaya, Klinik Investasi, hingga kanal Lupis (Layanan Penyelesaian Permasalahan Investasi). Kanal-kanal ini membantu investor mengurus perizinan, menyelesaikan hambatan realisasi investasi, dan melaporkan LKPM secara lebih mudah.
Untuk memastikan seluruh investasi berjalan efektif, Pemkot juga membentuk Tim Percepatan Investasi, yang bertugas mengawal kebijakan, memonitor izin, hingga memastikan investasi benar-benar terjadi di lapangan.
“Kami memastikan investasi tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar terealisasi,” tegas Lasidi.
Surabaya Siap Jadi Kota Paling Kompetitif di 2025
Dengan strategi baru, Surabaya menargetkan diri sebagai salah satu kota paling siap menawarkan proyek berkualitas sepanjang 2025. Pemkot berharap pendekatan ini mampu menarik lebih banyak investor nasional dan internasional, sekaligus mendorong pembangunan kota secara berkelanjutan.






