Dior Dior Dior

Luka Sosial di Balik Kerusuhan Surabaya

Dior

Surabaya – Kota Pahlawan yang biasanya ramai dengan aktivitas perdagangan, wisata, dan lalu lintas padat mendadak berubah mencekam pada akhir pekan lalu. Demonstrasi yang awalnya berlangsung damai di pusat kota berujung ricuh. Massa yang meluapkan amarahnya tidak hanya menyerang fasilitas negara, tetapi juga merusak ruang hidup masyarakat kecil.

Kericuhan itu membakar Gedung Negara Grahadi, merusak kantor polisi, hingga menghancurkan warung-warung sederhana milik warga. Api yang membara malam itu meninggalkan kepulan asap dan puing-puing bangunan yang kini menjadi saksi bisu.

Dior

Baca Juga : Gedung Grahadi Surabaya Dibakar dan Dijarah Massa

Warung Rakyat Rata dengan Tanah

Septa (45), pemilik warung makan di samping Polsek Tegalsari, hanya bisa berdiri dengan tubuh lunglai menatap puing bangunannya. Api melahap habis warung yang selama ini menjadi penopang hidup keluarga. Sebelum kobaran api melumat habis, para perusuh lebih dulu menjarah isi warungnya.

“Saya tahu warung saya dibakar. Tapi sebelum itu, barang-barang sudah diambil semua. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya bisa pasrah,” ucap Septa dengan suara bergetar, Senin (1/9/2025).

Dengan mata berkaca-kaca, ia mengais sisa barang yang mungkin masih bisa diselamatkan. Baginya, kerusuhan ini bukan sekadar peristiwa politik atau demonstrasi. Kerusuhan ini adalah titik balik kehidupan. Ia kehilangan mata pencaharian yang selama ini menghidupi istri dan dua anaknya.

“Dampaknya jelas ke rakyat kecil. Kami hanya berdagang untuk makan sehari-hari. Tapi akibat kerusuhan ini, kami kehilangan semua,” tuturnya lirih.

Saksi Mata: Penjarahan Merajalela

Luka Sosial di Balik Kerusuhan Surabaya: Warung Rakyat Jadi Korban

Asrori (53), warga sekitar lokasi kerusuhan, menjadi saksi betapa massa merajalela tanpa kendali. Ia menyaksikan langsung api melahap Polsek Tegalsari dan bangunan di sekitarnya, sementara warga hanya bisa tertegun.

Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat sejumlah orang membawa pulang barang curian, mulai dari pagar teralis, printer, hingga dispenser. “Lekas berhenti lah. Kalau begini, yang rugi ya masyarakat sendiri. Semoga Surabaya segera aman,” ujarnya dengan nada getir.

Baca Juga :  DPRD Surabaya Desak Evaluasi SOP Satpol PP

Asrori menyayangkan aksi brutal itu. Ia menilai amarah yang tak terkendali justru menjerumuskan masyarakat sendiri ke dalam kerugian. Bagi warga kecil, huru-hara itu tak ubahnya bencana.

Luka Sosial yang Menganga

Kerusuhan di Surabaya meninggalkan luka sosial yang dalam. Api merusak fasilitas negara, merobohkan kantor polisi, dan melahap warung-warung rakyat kecil hingga lenyap. Penjarahan tidak hanya merampas harta benda, tetapi juga meruntuhkan rasa aman dan kepercayaan warga terhadap lingkungannya.

Kini, Septa hanya bisa duduk memandangi puing warungnya. Ia tak lagi punya tempat untuk berdagang, namun ia masih menyimpan secercah harapan. “Saya hanya ingin bisa berdagang lagi. Cukup mencari rezeki dengan tenang, itu saja,” ucapnya pelan, menutup pembicaraan.

Dior