Dior Dior Dior

Kisah Guru TK di Surabaya: Mengabdi Hati Meski Gaji Kecil

Dior

Surabaya – Profesi guru menuntut panggilan hati. Jika guru tidak menjalankan profesinya dengan sepenuh hati, sulit bagi siapa pun untuk bertahan. Selain menerima gaji yang masih jauh dari Upah Minimum Kabupaten/Kota, guru juga harus rela ditugaskan di lokasi jauh dari tempat tinggalnya. Hal ini dialami Rusida, Kepala Taman Kanak-kanak (TK) di salah satu sekolah di Surabaya.

Setiap hari, perempuan yang kerap disapa Ida itu menempuh jarak sekitar 18 kilometer untuk melaksanakan kewajibannya sebagai tenaga pendidik. “Rumah saya di Kepatihan, Gresik, perbatasan dengan Surabaya,” ujar Ida saat ditemui Basra, Selasa (25/11/2025).

Dior

Perjuangan Setiap Pagi

Jam pelajaran di sekolah dimulai pukul 07.00 WIB. Agar tidak terlambat, Ida berangkat sekitar pukul 05.00 pagi setelah menunaikan salat subuh. “Biasanya saya berangkat habis subuhan, sekitar jam 5 pagi, supaya tidak terlambat sampai sekolah karena kawasan Surabaya barat itu macet,” terang Ida.

Baca Juga : 265 Keluarga Terdampak Banjir di pasuruan Terima Bantuan

Ida mengendarai motor setiap hari, menempuh jarak belasan kilometer untuk menjalankan tugas sebagai kepala sekolah sekaligus guru kelas dan guru ekstra kurikuler, termasuk mengajar menari.

Gaji Tidak Seimbang dengan Tugas

Kisah Guru di Surabaya Rela Tempuh Jarak 18 KM Setiap Hari demi Mengajar | kumparan.com

Ida menerima gaji sebesar Rp 750 ribu per bulan dari TK tempatnya mengabdi. “Itu sudah termasuk, karena saya memegang kelas sekaligus mengajar ekstra kurikuler,” tuturnya.

Selain gaji dari yayasan, Ida menerima tunjangan dari pemerintah kota sekitar Rp 2 juta lebih. Namun, Dana ini baru diterima setiap tiga bulan sekali dengan tanggal yang tidak menentu. “Setiap bulan Dinas Pendidikan memang memberi, sekitar Rp 2 jutaan, tapi baru kami terima setiap tiga bulan,” jelas Ida.

Baca Juga :  DPR RI dan Kejati Jatim Bahas Sengketa Lahan Eigendom

Ikhlas Menjalankan Tugas

Meski gaji masih jauh dari UMK Surabaya, Ida mengaku ikhlas menjalankan tugasnya. Ia telah menjalani profesi guru selama 36 tahun. “Kami mengabdi dengan hati. Anggap saja ini sebagai sangu (bekal) di akhirat. Insya Allah akan mendapat balasan di akhirat,” tegas Ida.

Di momen Hari Guru Nasional yang diperingati setiap 25 November, Ida berharap pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan gru, terutama guru di sekolah swasta terpencil. “Gaji guru sekolah swasta tergantung jumlah siswa. Jika sekolah kecil, otomatis gaji juga kecil. Semoga pemerintah lebih peduli, termasuk soal kejelasan status kami,” harapnya.

Dengan semangat pengabdian, Ida menjadi teladan bagi guru lain, bahwa dedikasi dan hati yang tulus tetap menjadi fondasi utama dalam pendidikan, meski gaji dan fasilitas masih terbatas.

Dior